(Sharing soal) “Katanya Toleransi (?)”

          Halo, teman… semoga dalam keadaan baik ya. Aamiin
Artikel sebelumnya hanya berisi sajak doang karena moodnya itu, sekarang moodnya pengen sharing.
Basa basinya dikit aja cukup, jangan banyak, entar bosen, terus entar pergi. #EH

       Aku udah lama banget pengen ketikin ini karena hal ini agak bikin annoying belakangan, tapi karena kebanyakan males jadi baru terealisasikan sekarang, semoga ndak expired. hehe
Ngomongin soal toleransi, aku pribadi ndak mau terlalu jauh ngomongin soal kasus bom, pemenjaraan, hinaan/ bullying yang faktanya, gara-gara itu jadinya pengen bahas. cuss…

          Toleransi, dulu aku mikirnya “bagaimana kita mau menerima perbedaan antara satu sama lain, saling menghargai, menghormati” dan masih aku yakini sampai sekarang, itu secara kognitif ya (kognitif:pengetahuan), entah kalo kalian ngartiinnya gimana. Pastinya ada janggalnya, kita kurang untuk menanamkan itu dalam bersikap. Ah? emang iya ? Iyalah… Kenapa? Nih secara reseacrh aku aja ya.

         Aku pernah nanya soal toleransi jika diterapkan ke beberapa hal dan itu punya arti berbeda, tapi secara umum ndak jauh-jauh dari kata menghargai dan menghormati, ndak memaksakan, memaklumi, dll. Dan mengacu dari yang rame kemarin masalah agama jadi TRANDING TOPIC, sampai akhirnya pemilihan presidenpun ndak jauh-jauh amat memanfaatkan hal yang sensitif kaya agama. hiks. . .

       Yang aku perhatikan adalah ketika isu agama, ras, suku yang harusnya kita sadar itu adalah bagian dari negara kita, iya kenapa harus di cari “permasalahannya”, ini loh yang akhirnya bikin pada gila bagi orang yang utamakan emosi daripada otak, jadilah ribut karena persoalan yang serumit “kamu ndak hargai saya”.

Study kasus,
Pada waktu bulan Ramadhan, Negara kita yang punya penduduk mayoritas muslim melaksanakan kewajiban mereka yaitu berpuasa. Bulan yang sakral banget buat kaum muslimin lebih fokus dan khusyu beribadah, memohon ampun, beramal dan berdoa dengan cara terbaik yang mereka bisa. Bahkan ndak cuma di negara kita, seluruh dunia pun ikut melaksanakan ini baik negara minoritas islam, negara yang punya porsi puasa lebih lama dibanding porsi berbuka.

      Sejauh itu, selama bulan Ramadhan, aku ngeliat ketimpangan dimana kaum muslimin masih berbisik buat ngolok orang yang makan di pinggir jalan, minum di tempat umum, dll. Kenapa aku sebut berisik? karena pointnya orang ini yang ndak khusyu, bukan karena orang yang makan, minum tadi. Secara bersamaan di negara minoritas, mereka kuat-kuat aja untuk puasa, bahkan yang durasi puasanya jauh lebih lama dibandingkan kita, mereka ndak berisik dan tetep menghargai orang lain meski orang lain ndak ikut puasa.
Inti pelajarannya, ndak perlu memaksakan atau meminta orang lain ikut dengan apa yang kita lakukan jika mereka tidak meyakini, mereka menghargai dengan cara ndak meng-iming-imingi makanan/minuman sama yang berpuasa loh. Jangan ke-enakan mentang-mentang negara ini mayoritas muslim.

       Hal berikutnya adalah HARI BESAR, kamu ndak perlu mengajak orang lain yang bukan dari agamamu untuk ikut merayakan, contoh : ngajak mereka beda keyakinan ikut ke rumahmu saat hari besar yang kamu peringati.
Itu suatu hal yang ndak perlu, karena malah menunjukkan bahwa kamu ndak menghargai mereka yang ndak seiman, secara tidak langsung kamu mengajak mereka untuk ikut memperingatinya bersamamu. Katanya toleransi, menghargai, menghormati, ndak memaksakan, memaklumi.

1. Kamu menghargai mereka yang ndak merayakan / kamu menghargai mereka yang merayakan dengan membiarkan mereka berhari raya dengan tenang, damai.
2. Kamu menghormati mereka yang ndak merayakan / kamu menghormati mereka yang merayakan dengan ndak bikin masalah atau mengolok mereka yang tidak sama denganmu.
3.Kamu tidak memaksakan mereka secara tersirat untuk datang merayakan bersamamu / kamu tidak memaksakan diri secara tersirat untuk merayakan bersama mereka.
4. Kamu memaklumi mereka tidak perlu datang karena sejelas-jelasnya kalian berbeda keyakinan / kamu memaklumi mereka yang berbahagia karena itu Hari Besar mereka

         Tidak mendeskriminasi satu sama lain, karena toleransi harus juga diterapkan dalam bersikap.
Belajar bertindak rasional saja, bukan sesuai perasaan karena ketidaknyamanan. Jika tidak ditegaskan, yaaa begitu, banyak ketidak jelasan bagaimana cara bertoleransi antar sesama. Pintar beradaptasi, seorang jawa yang tinggal di tanah batak tidak perlu mengganti suku mereka menjadi batak untuk bisa berteman, benar tidak ?

Sekian sharing dari aku, semoga bermanfaat dan bisa bikin kalian open minded.
see yaa

Posted in Sharing soal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *