Menjelma Malaikat

Ibu, Ibu, Ibu . . .

Satu kata, bukan kata kerja (bisa jadi), bukan kata sifat (bisa jadi), kata benda ? entahlah, yang jelas itu adalah sebuah subjek.

Satu kata ini sangat sederhana tapi rumit dijelaskan, karena menjelaskannya akan menjadi begitu komplek dan bercabang kaya cinta. Maaf, intermezzo aja. hehe

Seperti yang ada dipikiranku bahwa Hari Ibu itu setiap hari, sayangku juga setiap hari, kangennya setiap ada kesempatan, butuhnya setiap detik, dan mengucapkannya . . . Tunggu, aku mengingat-ingat apa aku pernah mengucapkannya ? Aku aja sampai lupa

Dia adalah perempuan yang tidak terlalu tua, tidak juga muda. Dia yang cerewet tentang semua yang ku lakukan, tetapi selalu mendukung apapun kesibukanku. Dia kadang mengikuti penuh kisah cintaku, tapi dia pula yang lelah lalu diam karena keluhanku. Dia mengajariku banyak hal tanpa harus ada kata mutiara.

Ibuku adalah gadis kecil yang berjuang untuk suapnya dengan bekerja, dia benar-benar mengalami banyak masa sulit. Sehari-hari bertemankan sang nenek dirumah sederhana membuat dia terbiasa untuk hidup dalam keterbatasan, beberapa kali ada lelaki paruh baya baik jawa maupun cina  yang dermawan untuk menawarkan diri mengasuh dirinya  namun berkali-kali ditolak, maklum saat kecil dia memiliki tubuh yang mungil, berkulit putih bersih, dan bermata sayu. Dewasanya ketika telah berkeluarga, ia mendengar kabar Ibu kandungnya sakit keras, berbulan bertahun semakin parah dan dia yang selalu merawat setiap harinya hingga ajal sang ibu telah sampai.

Pernah suatu ketika dia berucap kepadaku “Ibu memang marah dek sama mbahmu karena pernah menelantarkan, tapi gimanapun mbah itu orang tuanya ibu. Dimana ibu cari pahala kalo ndak lewat berbakti sama mbahmu apalagi sudah sakit seperti ini. Ibu pernah minta sama Allah dikasih kesempatan untuk berbakti dan pengen merawat mbahmu di masa tuanya dan Allah kabulkan”. Itulah kata-kata sekaligus pesan untukku.

Sosoknya yang selalu baik yang membuatku mengaguminya, seorang gadis kecil yang menjelma menjadi malaikat bagi kami ananknya bahkan bagi ibunya sendiri. Ibuku yang berupaya menjadi seorang yang sempurna untuk anak-anaknya karena tak mau kami hidup seperti dirinya dulu. Dia merupakan orang terkuat yang jadi pondasi kebentuknya karakter kami saat ini, walaupun ketika aku jauh darinya terlalu banyak kesalahan yang aku buat dibelakangnya. Sekarang, aku ingin jadi teman terbaiknya setelah Papa yang mendengarkan keluh kesahnya, candanya, yang ingin mengerti apa yang ia rasakan ketika ia bersedih dan membuat ia sedikit lebih tenang. Aku bahkan mungkin menjadi orang yang paling marah jika seseorang meremehkan Ibuku tepat dihadapanku, iya dia segalanya bagiku.

Aku ingin seperti dia meski yah.. ga akan bisa.

Pesan yang dia selipkan dalam perkataanya yang ingin aku lakukan terus menerus adalah selalu baik dengan orang lain terutama keluarga, tidak melihat sisi buruk orang lain, selalu bersabar dan kuat jika ada hal di luar kendaliku terjadi, berusaha mudah memaafkan, dan menjadi pribadi mandiri.

Ibu, kau tau.. aku memang hampir tak pernah mengucapkan bahwa aku sayang. Sekalipun aku pernah mengucapkannya adalah sesaat setelah siuman dari operasiku. Aku berbisik kepadamu “Ibu maafin aku, aku sayang Ibu” namun kau tak bisa mendengar itu, memang suara parauku terlalu samar, lalu aku beralih dan mengeluh “Aku kedinginan” kemudian kau sigap menarik selimut diranjang rumah sakit kala itu.

Maafkan aku yang terlalu malu untuk mengucapkannya dengan keras. Aku berjanji akan mengamalkan hal baik yang kau turunkan padaku, Ibu.. karena kasih sayang Ibu tak terbantahkan waktu, sampai kapanpun.

Terimakasih Jasmine Elektrik sudah memberi kesempatan aku mengungkapkannya meski tak seberapa frasa untuk menggambarkan semuanya.

#JasmineElektrikCeritaIBU

Posted in Strawberry shortcake

2 thoughts on “Menjelma Malaikat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *